Sungguh sangat terlambat mengetahui acara ini di Discovery Channel. Acara Fight Quest ini kurang lebih berisi tentang perjalanan dan petualangan Doug Anderson dan Jimmy Smith yang merupakan dua orang fighter MMA (Mixed Martial Arts) terkemuka dalam menjelajahi beberapa aliran sni beladiri yang dipilih. Mereka berdua datang ke perguruan yang dipilih dan diberi kesempatan beberapa hari untuk berlatih dan selanjutnya bertarung dengan fighter terbaik di seni beladiri tersebut. Setelah beberapa hari sebelumnya terlewat episode China (Wushu), kebetulan semalam 17-Jun-2008 pukul 21.00 saya sempatkan menonton salah satu episode nya yaitu di Japan. Dimana yang dipilih adalah Kyokushin Karate. Doug dan Jimmy diterima secara rasmi oleh Chairman Kyokushin IKO-1 yaitu Akiyoshi Matsui. Selanjutnya mereka berdua dipisah untuk dilatih oleh dua orang guru yang berbeda. Doug dilatih oleh Shihan Isamu Fukuda di champ latihan di dekat Makam pendiri Kyokushin Sosai Masutatsu Oyama di gunung Mitsumine sekira 4 jam perjalanan. Sementara Jimmy Smith dilatih oleh Shihan Yuzo Goda di dojo pusat Kyokushin (Honbu) di Tokyo. Keduanya menjalani latihan keras ala Kyokushin selama beberapa hari. Berlatih Kihon (dasar), Kumite (pertarungan), Kata (Jurus), dan Tameshiwari (pemecahan benda keras). Jimmy sangat terkesan ternyata mampu mematahkan stick softball dengan menggunakan mawashi gedan (tendangan bawah dengan tulang kering). Walau mereka petarung MMA profesional tapi tampak kewalahan bertarung ala kyokushin menghadapi para fighter top kyokushin. Maklum semua yang berlatih di situ merupakan fighter top murid Kyokushin Uchidesu yang sudah mendedikasikan hidup nya ke Kyokshin. Dalam latihan tangan mereka harus berdarah-darah akibat gesekan dengan dogi. Ini bisa dimaklum karena mereka harus bertarung secara full body contact ala kyokushin, sementara selama ini mereka bertarung dengan menggunakan hand glove dalam event MMA. Di akhir program ini mereka harus bertarung dengan 5 orang fighter top kyokushin masing-masing selama 2 menit. Terlihat beberapa kali mereka terjatuh terkena tendangan mawashi jodan (tendangan samping atas arah kepala). Ini belum seberapa bila dibanding dengan para fighter top kyokushin lainnya yang umumnya sudah menjalani tradisi 100 men Kumite, dimana setiap fighter harus bertarung dengan 100 orang dengan masing-masing 2 menit diselingi beberapa kali istirahat. Pendiri Kyokushin Sosai Masutatsu Oyama bahkan sudah menjalani 300 men kumite. Fighter top kyokushin nyang pernah menjalani tradisi 100 Men Kumite al: Akiyoshi Matsui, Kenji Yamaki, Hajime Kazumi, dll. Di Indonesia yang pernah menjalani tradisi ini antara lain adalah Shihan JB. Sujoto (17 Men Kumite), Sensei Anthony Pajouw (20 Men & 50 Men Kumite), Sensei Mario Christie (20 Men & 50 Men Kumite). Sungguh acara yang sangat menarik. Saya sedang menunggu episode tentang Pencak Silat, dimana Doug dan Jimmy ternyata juga sempat singgah di Bandung untuk belajar Silat Mande Muda dengan Rita Suwanda dan Dadang Gunawan. Kita tunggu, barangkali Metro TV atau lainnya mau membeli tayangan ini. Berikut daftar perjalanan mereka menjelajasi seni beladiri di seluruh dunia: WUSHU; SANDA Location: Dengfeng, China Masters: Shi DeYang/Shi De Cheng Features: Hands, Feet, smashing things Premiere: Dec. 28, 2007
KALI Location: Manila, Philippines Masters: Cristino Vasquez/Leo T. Gaje Jr. Features: Knives, sticks Premiere: Jan. 4, 2008
KYOKUSHIN KARATE Location: Tokyo, Japan Masters: Shihan Yuzo Goda/Shihan Isamu Fukuda Features: Hands, feet, smashing things Premiere: Jan. 11, 2008
BOXING Location: Mexico City, Mexico Masters: Ignacio "Nacho" Beristain/Tiburcio Garcia Features: Hands Premiere: Jan. 18, 2008
PENCAK SILAT Location: Bandung, Indonesia Masters: Rita Suwanda/Dadang Gunawan Features: Hands, feet, throws, weapons Premiere: Jan. 25, 2008
SAVATE Location: Marseille, France Masters: Christian Robert, Frank May/Frederic Baret/Laurent Bois/Patrick Gellat Features: Hands, feet Premiere: Feb. 1, 2008
HAPKIDO Location: Seoul, South Korea Masters: Kim Nam Je, Bae Sung Book/Ju Soong Weo Features: Feet, hands, throws Premiere: Feb. 8, 2008
BRAZILIAN JIU-JITSU Location: Rio de Janeiro, Brazil Masters: Breno Sivak, Renato Barreto Features: Grappling Premiere: Feb. 15, 2008
KRAV MAGA Location: Netanya, Israel Masters: Ran Nakkash, Avivit Oftek Cohen Features: Everything that hurts Premiere: Feb. 22, 2008
KAJUKENBO Location: Bay Area, Calif. Masters: Charles Gaylord/Greg Harper Features: Hands, feet, throws Premiere: Feb. 28, 2008
Sebulan lamanya sepanjang Ramadhan yang mulia, kaum muslimin berada dalam gemblengan Ilahi menunaikan perintah puasa, menata dirinya agar menjadi insan yang bertaqwa dan taat kepada titah perintah Khaliq-Nya. Dalam bulan suci itu kaum muslimin berjuang dengan mensucikan jiwa-raganya agar bersih dari debu-debu dosa yang selama ini mungkin melekat pada rohani dan jiwa mereka. Dan sebulan lamanya beramai-ramai mengabdi kepada Ilahi, berduyun-duyun datang ke masjid-masjid, langgar-langgar, dan mushalla untuk melakukan shalat tarawih dan witir serta mendengarkan ceramah ramadhan yang disampaikan oleh para Da'I dan Mubaligh. Dengan gemblengan "Sekolah Ramadhan" yang berkah itu, jiwa kaum muslimin menjadi kuat dan terlatih, menjadi kompak dan bersatu bahu membahu mematuhi perintah Ilahi. Dan dengan jiwa yang bersih suci kompak berstau itu kaum muslimin pada akhir Ramadhan melahirkan kegembiraan mereka keluar rumah di pagi hari raya yang permai berseri menjalankan Syariat Shalat Idul Fithri menuju lapangan yang luas sebagai tasyakur dan unjuk kekuatan, bagaikan tentara yang kembali dari medan perang yang dahsyat dengan membawa kemenangan yang gilang gemilang, MINAL 'AIDIN WAL FAIZIIN TAQABALALLAHU MINNA WA MINKUM. Jiwa Baru "Sekolah Ramadhan" yang hanya sebulan lamanya itu mebawa berkah yang menakjubkan bagi kaum muslimin. Ia telah menumbuhkan pada diri kaum muslimin semangat dan jiwa baru yang berkobar-kobar, sehat dan segar bugar yang siap maju ke depan di segala arena dan sektor medan juang. Sunnah Rasulullah Menurut Sunnah Rasulullah, Shalat Idul Fithri itu memang lebih baik diadakan di lapangan terbuka. Dan beliau amat jarang mengadakannya di masjid, kecuali hari hujan. Sebab berbaris bershaf-shaf di lapangan terbuka akan menambah syiarnya upacara shalat Hari Raya dan sekaligus unjuk kekuatan kepada lawan yang selama ini menjadi penarung dan batu penghalang bagi semaraknya agama Islam. Demikianlah yang dilakukan Rasulullah sampai akhir hayat beliau di Madinah. Idul Fithri di Indonesia Shalat Idul Fithri di tanah air kita Indonesia mempunyai sejarah yang unik, karena pada umumnya kaum muslimin Indonesia sebelum tahun 1930 melakukannya hanya di masjid-masjid, tidak di lapangan terbuka. Ini disebabkan antara lain adanya rintangan dari pemerintah Kolonial Belanda untuk melakukannya di lapangan-lapangan terbuka. Tetapi apakah rintangan itu akan dibiarkan terus menjadi penghalang ? Tidak ! SI Pelopor dalam Agama Waktu itu Syarikat Islam (PSII) adalah satu-satunya partai politik Islam yang menjadi pelopor dalam politik dan pelopor dalam agama. Pergerakan rakyat di waktu itu mengalami tekanan yang amat berat dari pemerintah Kolonial Belanda. Tetapi justru dalam situasi dan kondisi yang sedemikian itu pulalah orang menilai kepemimpinan dari tokoh-tokoh pergerakan yang sejati. SI mencoba menembus halangan yang dibuat oleh pemerintah Kolonial Belanda dan sekaligus test case bagi jiwa dan semangat ummat sampai di mana keberanian mereka untuk menerapkan ajaran agama di hadapan mata lawan-lawan mereka yang senantiasa memandang dengan mata yang penuh kecurigaan. Demikianlah Pucuk Pimpinan SI pada tahun 1931 menginstruksikan kepada SI Cabang Bandung supaya mengadakan Shalat Hari Raya di lapangan terbuka sambil menjelaskan bahwa yang akan bertindak sebagai Khatibnya adalah tidak tanggung-tanggung, yaitu AM. Sangaji, Presiden Lajnah Tanfidziyah PSII sendiri, yang terkenal sebagai singa mimbar SI di samping HOS. Cokroaminoto. Tetapi yang sudah jelas, bahwa melaksanakan instruksi Laznah Tanfidfziyah SI tidaklah gampang, kerena harus melalui ijin pihak yang berwajib terlebih dahulu. Apalagi hal itu suatu hal yang belum pernah terjadi dan sungguh ditakuti akibatnya oleh pemerintah Kolonial itu sendiri. Walaupun ijin telah diminta, tetapi surat ijin dan pemberitahuan tidak juga kunjung datang, sedang waktu sudah makin mendesak, dan hari raya telah hampir tiba. Jasa tak terduga seorang Intelek Muslim Syafei Wirakusumah (83 tahun), pimpinan SI Cabang Bandung yang waktu itu bertugas selaku ketua pelaksana Shalat 'Ied, bekerja dengan keras untuk mendapatkan ijin. Dan pada suatu petang ia berjalan-jalan di tengah kota, tiba-tiba ada orang yang menyapa, "hendak kemana dan apa gerangan yang sedang dipikirkansambil berjalan-jalan di petang hari ini ?". "Saya berfikir bagaimana caranya supaya cepat keluar ijin Shalat 'Ied yang akan dilangsungkan di lapangan Tegal Lega Bandung itu ?", Jawab Syafei tegas. "Apakah anda kenal dengan Prof. Kamal Schoemaker dosen THS (sekarang ITB) ? Cobalah datang ke rumah beliau, mungkin beliau dapat membantu dan menunjukkan jalan !", tukas orang yang baik itu sambil memberi harapan kepada Ketua Panitia. Syafei, Ketua Panitia menuju rumah Prof. Kamal Schoemaker seorang yang belum dikenalnya. Tetapi diluar dugaan, bahwa intelektual yang berkebangsaan Belanda itu rupanya seorang muslim yang taat kepada agamanya. "Demikian ramah dan simpatik", kata Syafei kepada penulis ketika mengungkapkan kenangannya kepada peristiwa sejarah masa lalu itu. Sarjana Muslim yang taat itu ketika dijelaskan kepadanya maksud "Syarikat Islam" akan melaksanakan Shalat Ied di lapangan "Tegal Lega" dengan sepontanitas yang mengejutkan mendukung dan merestui maksud yang mulia itu. Ia malah mendukung dengan moral dna material. Terbukti sebentar itu kuga ia angkat gagang telephone dan menghubungi Tuan Residen Bandung. Karena mungkin dianggapnya Residen turut menghalangi keluarnya ijin dari yang berwajib atau bahkan tidak diijinkan sama sekali. Tidak puas dengan itu, ia membuat telegram kepada Gubernur Jendral yang bersemayam di Bogor waktu itu itu atas nama dirinya dan dengan ongkosnya, tetapi aia minta tolong kepada panitia untuk melaksanakannya segera. Dan saat Panitia meminta ijin pulang, karena apa yang dimaksud telah tercapai dan hari telah menjelang maghrib, maka sang Profesor masih menahan lagi tamunya, karena beliau masih ingin shalat berjamaah dengan tamu-tamunya itu di mushalla khusus yang terletak di dalam rumahnya itu. Shalat 'Ied yang pertama di lapanga Bila Hari Raya telah datang, maka penduduk kota Bandung berduyun-duyun ke lapangan "Tegal Lega" dengan hati yang girang-gembira serta semangat yang berkobar-kobar untuk menunaikan Shalat 'Ied beramai-ramai, apalagi khutbah 'Ied dibawakan oleh tokoh pergerakan yang populer di masa itu, AM. Sangaji. Alangkah bahagianya kaum muslimin Bandung sepagi hari itu, mereka mengadakan "Show of Force" unjuk kekuatan kepada lawan-lawannya, dan juga memperlihatkan kepada pemerintah Kolonial Belanda bahwa bagaimanapun beratnya tindasan dan tekanan, ummat Islam tidak gentar dan tetap akan melawan dan akan menuntut hak-hak asasinya sebagai makhluk Allah yang harus duduk sama rendah, tegak sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Ketua Panitia dipanggil PID Shalat 'Ied yang merupakan Show of Force yang pertama kali dalam sejarah keagamaan itu membuat Belanda terutama pemerintah setempat menjadi geger dan ketakutan. Ketua Panitia dipanggil Kepala Polisi (PID) bandung, dijemput dengan kendaraan polisi yang berbentuk perahu itu. Setelah tiba di kantor polisi terjadi dialog berikut: "Kenapa tuan berani mengirim kawat telegram kepada Gubernur Jendral di Bogor ?", tanya Kepala Polisi. "Memang saya yang mengirimkan, tetapi itu adalah atas saran Prof. Kamal Schoemaker, dan kata-katanya pun beliau sendiri yang menuliskannya", jawab Ketua Panitia. "Lain kali jangan dibuat lagi ya !", sahut Kepala Polisi. Syafei Wirakusumah yang telah siap waspada untuk ditangkap Belanda waktu itu pulang dari kantor polisi dengan wajah girang berseri-seri, karena hasil usahanya sukses besar, dan anehnya ia pulang dari kantor polisi dengan mengantongi uang, yang oleh Kepala Polisi berkebangsaan Belanda itu dikatakannya untuk mengganti ongkos telegram yang dikirim panitia kepada Gubernur Jendral. Bukan saja panitia yang bergembira atas hasil usahanya itu., tetapi tidak kurang dari itu adalah intelektual muslim yang brilliant itu sendiri, Prof. Kamal Schoemaker. Dan untuk memperlihatkan kegembiraan hatinya, dengan memakai jubahnya yang khas pada hari baik dan bulan baik itu kini ia balik berkunjung ke rumah Ketua Panitia Shalat 'Ied yang gigih itu, Syafei Wirakusumah, sambil mengucapkan, "Selamat Hari Raya!". Dan peristiwa bersejarah itu terjadi pada tahun 1931 sebagai awal pertama kaum muslimin Indonesia memulai Shalat 'Ied di lapangan terbuka. Demikian sekelumit sejarah dan kisah terpendam yang patut dicatat oleh generasi islam masa kini dan masa mendatang. Cuma sedikit pertanyaan di hati dalam hati kita, apakah pemimpin-pemimpin Syarikat Islam masa kini masih mempunyai semangat kepeloporan untuk menegakkan ajaran-ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat seperti yang dimiliki para pendahulu mereka ? Dan apakah para pemimpin Islam pada umumnya masih mempunyai keberanian dan moril untuk berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan seperti apa yang dimiliki para pemimpin di jaman Kolonial dulu ? Sekianlah, MINAL 'AIDIN WAL FAIZIIN WA ANTUM BI KHAIRIN FI KULLI 'AMIN ! SELAMAT HARI RAYA 'IDUL FITHRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN. *) Firdaus, KH. AN, Panji-Panji Dakwah, CV. Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta 1991
Berikut ada tulisan bagus yang pernah diposting di berbagai milis beberapa waktu lalu. Sayang tidak ada yang menyebutkan siapa penulis asalnya. Semoga bermanfaat. Salam Model Investasi "How do you invest for your future?" tanya saya pada seorang teman yang nampaknya hidupnya makmur dan keluarganya bahagia pada saat saya datang ke rumahnya yang asri. Saya ingin tahu rahasianya bagaimana ia bisa memperoleh kehidupan yang nampak begitu nyaman. Ia tidak langsung menjawab, entah karena saya bertanya dalam bahasa Inggris atau karena itu bukan pertanyaan yang biasa dilontarkan. Ia bahkan balik bertanya "Investasi bentuk apa dan masa depan yang bagaimana ?" (Curang. Baliknya malah dua pertanyaan). Kali ini saya yang gelagapan. "Yah...nabung untuk pendidikan anak-anak, nabung untuk masa-masa sulit, nabung untuk pensiun. Kalau-kalau kita sakit, dll. Kita kan orang swasta," Jawab saya sekenanya. Kali ini dalam bahasa Indonesia. Ia lantas tertawa. "Saya pikir kamu bicara tentang 'The Ultimate Future'. Itu pertanyaan yang berat dan serius tapi kalau ini sih pertanyaan remeh." tambahnya. Saya jadi penasaran. "So..., how ?" tanya saya mendesaknya. Dengan senyum tertahan ia lantas menjawab,: "Saya telah memperoleh masa depan saya. Masa depan saya ya sekarang ini." Sialan! Ia mulai jahil dan hendak mempermainkan saya rupanya. Karena tahu saya mulai jengkel ia lantas bercerita tentang masa lalunya. Katanya ia dibesarkan dari keluarga besar dengan kehidupan yang sangat miskin. Untuk makan sehari-haripun susah sehingga sering ia datang berkunjung ke rumah temannya yang kehidupannya lebih baik pas waktu makan malam agar bisa diajak makan sekalian. Ketika duduk di bangku SMP ia bahkan harus berjalan kaki 8 km pp setiap hari untuk bersekolah. Jangan ditanya soal pembayaran SPP dan iuran lain-lain, tambahnya. " Untungnya saya punya urat malu yang bisa disetel sehingga tidak pernah berpikir untuk bunuh diri atau keluar dari sekolah seperti beberapa teman yang lain meski dengan tekanan yang luar biasa besarnya." katanya, "Meski saya juga bukan anak yang cerdas dan memiliki prestasi di sekolah. Kamu tahu saya kan" tambahnya. "Gimana bisa punya prestasi kalau nggak punya buku diktat dan sering berangkat sekolah dengan perut kosong ?" tambahnya setengah bertanya. "Tapi saya punya keinginan kuat untuk melepaskan diri dari belenggu kemiskinan meski saya tidak tahu bagaimana caranya." sambungnya. "Sekolah adalah salah satu jalannya karena hanya itu yang saya miliki. Saya tahu itu karena saya banyak melihat anak-anak di kampung saya yang hanya bisa 'berkarier' di terminal bis dan angkot karena tak mampu bersekolah. Kalau tidak nyopir ya jadi jualan apa saja. Kalau yang punya sedikit keberanian ya jadi preman". "Apa masa depan yang saya perjuangkan pada saat itu ?" Tiba-tiba ia bertanya pada saya. Saya diam saja karena tahu itu pertanyaan retorik. Ia lantas menjawab sendiri. "Waktu itu saya sering berdoa dalam hati :"Ya, Allah, kalau Kau memberiku pekerjaan yang baik, penghasilan yang cukup, anak dan istri yang menyenangkan, maka itu cukuplah bagiku." dan Allah telah memberi semua 'masa depan' yang saya inginkan tersebut sekarang ini." katanya sambil mengangkat kedua belah tangannya. "Saya sudah memperoleh masa depan yang saya idam-idamkan sekarang ini dan saya tengah menikmatinya. Tidak ada lagi yang harus saya perjuangkan untuk diri saya pribadi" tambahnya. Entah mengapa tiba-tiba saya merasa seperti disindir. "Tapi kita kan harus terus berusaha dan kita juga harus memikirkan masa depan anak-anak kita bukan hanya kehidupan kita sekarang tapi juga dimasa yang akan datang." Demikian sergah saya membela diri. "Tentu saja" jawabnya,"Emangnya kamu lihat saya doing nothing dan tidak memikirkan masa depan anak-anak saya?" Ia balik bertanya. "Bekerja dan berpikir adalah nafas kehidupan saya dan anak-anak adalah investasi saya". Saya masih defensif ketika ia meneruskan,"Justru itulah kita perlu memberikan teladan yang baik kepada anak-anak kita karena merekalah investasi kita. Kita ingin menuai hasil yang baik maka kita perlu menanam benih-benih yang baik pula. Harta, deposito dan tabungan pendidikan yang kamu simpan itu bukan investasi " Oops! kok tahu-tahunya ia kalau saya tertarik pada Program Tabungan Pendidikan yang gencar ditawarkan oleh bank-bank pada istri saya. "Biaya pendidikan bukanlah bagian yang terpenting tapi justru bentuk pendidikan apa yang hendak kamu berikan pada anak-anakmu yang lebih penting. Keteladanan adalah bentuk investasi yang akan saya tanamkan pada anak-anak saya". "Inggih, Mbah!" jawab saya mengoloknya dan kamipun tertawa bersama. Percakapan menjadi serius ketika ia bilang bahwa 'The Ultimate Future' yang sedang ia persiapkan adalah masa 'Life After Death'. "Itu baru the Real Future!" katanya sambil tertawa, "Dan saya sedang serius mempersiapkannya." Sambil wanti-wanti untuk tidak menceritakannya pada orang lain iapun bercerita bahwa ia sudah mulai menyisihkan penghasilannya lebih dari 10% untuk dibagi-bagikan pada tetangga-tetangganya yang kebanyakan orang miskin. Setiap bulan ia membagi-bagikan natura dan keperluan hidup berbentuk beras, supermie, telor, minyak goreng, sabun cuci, dll. kepada tetangga-tetangganya. Ia juga mengaku tidak punya tabungan khusus untuk masa-masa sulit seperti yang saya maksudkan dan juga tidak punya tabungan pendidikan bagi anak-anaknya. Ia yakin bahwa Allah akan memberikan biaya yang ia butuhkan pada saatnya kelak. "Saya 'meminjamkan' harta saya kepada Allah dan nantinya akan dibalas dengan berlipat-lipat. Saya punya jaminan deposito yang tidak bisa dikalahkan oleh lembaga keuangan manapun di dunia ini" jawabnya sambil tersenyum setengah menggoda. "Bisa nggak 'pinjaman' kita tersebut diambil sewaktu-waktu kalau kita membutuhkannya," tanya saya balik menggodanya. "Tentu saja. Itu tinggal kita atur dengan Allah." jawabnya kalem. "Gimana...?" saya mengubernya dan mulai merasa keqi. "Ya tinggal bilang saja, 'Ya Allah Engkau tahu kapan saya membutuhkannya dan kapan tidak maka aturkanlah sebaik-baiknya untukku' Insya Allah beres." sahutnya. "No...no...no! I'm serious" jawab saya agak jengkel. "Saya juga serius." Ia menjawab sambil menatap saya dalam-dalam, "Dan itulah yang terjadi dalam hidup saya." Kami saling berpandangan selama beberapa detik sebelum akhirnya kami tertawa bersama-sama. "Apa yang kamu kuatirkan dalam hidup ini ?" Tanyanya balik. "Bukankah burung yang terbang di langit dan cacing yang melata di bumi telah dijamin hidupnya oleh Yang Menciptakannya ?" ia melanjutkan. "Cicak yang merayap saja tidak pernah kuatir dengan hidupnya meskipun makanannya berupa mahluk yang terbang dan ia tidak punya alat untuk menjeratnya." "Muuulai..!" kata saya dalam hati tapi tidak terucap. Biasanya kalau ia sudah mulai bicara mengenai filosofi maka akan sulit untuk menginterupsinya. Percuma untuk membantahnya meskipun menggunakan argumentasi sebagaimanapun canggihnya. Sebelum pembicaraan berlarut sedangkan saya masih harus menemui seseorang maka saya segera menghentikannya. Saya sebetulnya ingin mendebatnya dengan menyatakan betapa banyaknya orang yang kelaparan dan tidak mampu untuk mencari makan sehari-hari. Tapi niat tersebut saya urungkan karena perdebatan akan menyita banyak waktu saya. "Oke...oke.! Tapi saat ini saya perlu bertemu dengan seseorang yang bisa menjamin apakah saya dapat proyek atau tidak. Nantilah kita teruskan cerita kita." "Dasar penganut paham materialisme!" sahutnya sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. dan kamipun tertawa bersama-sama. Tapi ditengah perjalanan saya jadi terganggu oleh pertanyaannya. Bahkan ketika saya menemui 'Mr Kepala Proyek'. Gambaran teman saya tentang cicak yang bersusah-payah memburu mangsanya yang terbang di sekitar lampu untuk bisa hidup membuat saya jadi terkesima. "Alangkah sulitnya hidup sebagai cicak" pikir saya akhirnya. Seandainya ia bisa terbang seperti mangsanya mungkin akan lebih memudahkan hidupnya karena ia bisa mengubernya kemana saja mangsanya tersebut terbang. Tapi ia harus menerima nasibnya hanya bisa merayap dan mengandalkan kecepatannya bergerak dan kelengahan mangsanya. "Lantas bagaimana cara cicak mengurusi anak-anaknya ? Bagaimana pendidikan anak-anaknya ? Apakah ia memiliki asuransi pendidikan ?" Tiba-tiba saja pertanyaan absurd tersebut muncul di kepala saya. "Bagaimana, Pak! Sampeyan bersedia dengan angka sekian?" Tiba-tiba saya dikagetkan oleh pertanyaan 'Mr Kepala Proyek'. "Ya...ya..ya.!" jawab saya buru-buru. Gambaran sang cicak yang mengurus asuransi pendidikan bagi anak-anaknya lantas buyar begitu saja. -------------oo0oo--------------
"Rabbana hablana min azwajina wadzurriiyatina qurrata 'ayun waj'alna lil muttaqina imaama" Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. 25:74) Bertolak dari ayat di atas kiranya bisa dipahami bahwa Allah sudah mentakdirkan manusia mempunyai kecenderungan untuk mempunyai keturunan atau generasi yang paling tidak lebih baik dari dari sekarang. Oleh kerananya sudah menjadi tugas generasi sekarang untuk mempersiapkan secara baik generasi yang akan datang. Bermakna solusi dari semua itu ialah menyiapkan pendidikan yang up to date yang selalu menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Rasulullah SAW dalam beberapa riwayat juga menyirat hal yang sama agar kita selalu menyiapkan generasi kita yang sesuai dengan perkembangan jaman berbekal Imtaq dan Imtaq yang memadai sehingga bisa menjadi manusia paripurna di segala jaman. Berbakti kepada orang tua, negara dan agamanya. Namun demikian kenyataan tidaklah semudah membalik tangan. Pengalaman penulis ketika bekerja di perusahaan multi nasional PMA yang didirikan oleh TMG seorang pengusaha pribumi membuktikan bahwa seorang tokoh kaliber nasional sekalipun ada yang tidak mampu alias gagal dalam menyiapkan generasi penerusnya. Latar belakang TMG sendiri adalah dari kalangan bawah, pernah menjadi tentara saat revolusi fisik dan selanjutnya memilih keluar untuk melanjutkan pendidikan setelah periode orde lama. Bakat kewirausahannya sangat menonjol sehingga mendapat beasiswa kesempatan untuk melanjutkan study ke LN. Sepulang dari LN mendirikan perusahaan dan beberapa kali jatuh bangun sampai akhirnya berpartner dengan mitra LN tempat belajar. dan berkembang pesat. Sebagai seorang muslim taat TMG sadar betul akan pentingnya pendidikan. Di perusahaannya didirikan semacam lembaga pendidikan atau training center yang selain mendidik para karyawannya juga menerima trainee dari berbagai macam perusahaan. Hal ini selaras dengan prinsip perusahaan yang selalu menyesuaikan diri dengan kemajuan jaman. Penulis sewaktu bekerja di sana juga beberapa kali mengikuti kursus di lembaga pendidikan tersebut. Semasa kepemimpinan perusahaan dijabat oleh TMG perusahaan berkembang dengan pesat. Dengan leadership dan karakter yang kuat membuat TMG cukup disegani oleh mitra LN yang turut bekerja di perusahaan tersebut. TMG selalu menanamkan kedudukan yang sejajar antara staff lokal dan expat. Selain aktif sebagai pengusaha TMG juga pernah duduk di kursi DPR semasa orba. Kerana aktif sebagai politisi non partai pemerintah beberapa kali usaha business nya dicekal oleh pemerintah orba saat itu. Namun berkat keuletan dan kepemimpinanya yang kuat bisa melalui nya dengan selamat. Target utama TMG bermitra dengan LN adalah suatu saat akan mandiri dan lepas dengan mitra LN dengan mengandalkan seluruhnya staff lokal. Di mata para karyawan, TMG boleh di kata sangat dicintai karyawan. Hampir semua kebijakannya sangat adil dan selalu mengutamakan karyawan. Karena menganggap bahwa karyawan adalah asset yang harus selalu dijaga dan dirawat. Segala fasilitas pokok untuk karyawan disediakan seperti perumahan, transportasi, kesehatan, dll. Pernah suatu ketika ditanya kenapa tidak banyak merekrut tenaga ahli (Engineer) di perusahaannya, dijawab, "dari pada saya mengangkat (memberi makan) 1 orang engineer lebih baik saya mengangkat (memberi makan) 5 orang lulusan SMA". Dari lulusan SMA saya bisa menciptakan sekelas engineer. Begitulah kiranya pemahanan beliau ini bahwa beliau lebih bangga bisa menghidupi 5 orang dengan gaji 500 ribu sebulan daripada 1 orang engineer dengan gaji 2.5 juta per bulan. Dalam kondisi sulit pun TMG tidak ada niat sedikit pun untuk melakukan PHK. Kondisi jeda waktu sepi order dimanfaatkan untuk pendidikan para karyawannya dan dengan melakukan penghematan dengan memotong gaji karyawan semua level. Namun demikian rupanya Allah SWT berkehendak memanggil hambanya TMG lebih cepat. TMG meninggal karena sakit di usia 54 tahun. Selanjutnya kepemimpinan perusahaan digantikan oleh orang lokal kepercayaan beliau. Hal ini kerana putranya masih belajar di LN dan belum cukup usia dan pengalaman untuk memimpin sebuah perusahaan multi nasional. Sekembali dari LN setelah lulus putra TMG mulai magang di perusahaan, dan 5 tahun kemudian diserahi tampuk kepemimpinan. Setelah kendali dipegang sang putra, mulai masuk para engineer baru untuk mensupport usahanya, dan mengangkat para kolega (kroni) nya untuk memegang posisi penting yang notabene tidak pernah berkeringat dalam membesarkan perusahaan. Kondisi ini sebenarnya cukup menyakitkan para karyawan mengingat banyak kader handal di internal perusahaan yang tidak dimanfaatkan. Singkat kata kemudian, jalan perusahaan sudahlah tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan almarhum TMG. Bahkan kemudian saham TMG di perusahaan semakin berkurang dan segala kebijakannya didominasi mitra LN nya. Ini kerana kepemimpinan sang putra yang sangat lemah, juga sebagian besar top manajemen dijabat oleh koleganya yang notabene alumnus LN yang semua kebijakannya kurang berpihak kepada karyawan. Dalam perkembangan beberapa fasilitas untuk karyawan tingkat bawah seperti perumahan dihilangkan. Kalau dilihat dari kacamata busines memang kondisi perusahaan secara kesluruhan dalam kondisi baik dan berkembang, namun bila ditengok dari kacamata seperti yang ditarget kan oleh almarhum TMG boleh dibilang GAGAL. Kisah ini murni opini pribadi dan berdasarkan pengalaman penulis sebagai refleksi bahwa seorang tokoh kaliber nasional pun GAGAL dalam mempersiapkan generasi penerusnya, bagaimana dengan kita yang orang biasa ?? Wallahualam. Salam
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS. 4:36) Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. 17:37) Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. 31:18) Tiga ayat di atas sekedar menggambarkan bahwa kita sebagai manusia yang dhaif janganlah bersikap sombong karena hal itu sangat dimurkai Allah. Rasulullah SAW dan para sahabat dalam berbagai riwayat digambarkan sangat jauh dari sikap sombong ini dan sangat dekat dengan ummatnya (merakyat). Khalifah Abu Bakar bahkan membebaskan Bilal bin Rabbah dari budak. Khalifah Umar bahkan memanggul sendiri karung makanan dan mengantarkannya sendiri ke rumah ummatnya yang kelaparan. Ini sangat berbanding terbalik dengan kondisi para petinggi kita sekarang yang tidak ada rasa empati sama sekali terhadap penderitaan rakyat. Di berbagai media bahkan seorang menteri berkata sombong, kalau tak mampu ya jangan beli Elpiji ketika diwawancarai masalah kenaikan harga Elpiji. Hal-ikhwal masalah kesombongan ini penulis mempunyai pengalaman pribadi beberapa tahun lalu sekitar tahun 1995 - 1996 ketika berteman dengan mas PB yang merupakan tetangga kos penulis. Karena berasal dari daerah yang sama dan sama-sama merantau di Jakarta barangkali kata yang tepat sebagai alasan kedekatan penulis dengan Mas BP ini. Di kamar kost yang berukuran kira-kira 3x4 m2 penulis tinggal berdua dengan teman sekantor, sementara Mas BP tinggal berdua dengan istrinya. Karena masih kost maka penulis dan Mas BP sering makan malam bareng di warung yang berada di sekitar kost-kostan. Pernah suatu ketika waktu makan sahur di warung hujan turun dengan lebatnya dan kebetulan tidak membawa payung, penulis dan Mas BP berdua berteduh di warung semi permanen yang bocor sana-sini. Sementara penulis membeli nasi 2 bungkus untuk makan sahur berdua di kamar, dan Mas BP juga membeli 2 bungkus untuk sahur berdua dengan istrinya. Mengingat waktu imsak yang sudah dekat kami terpaksa hujan2an pulang ke rumah. Barangkali ini pengalaman berkesan penulis dengan Mas BP. Selain dekat dengan Mas BP penulis juga ada mengenal dengan beberapa kerabat dan orang tuanya yang sering berkunjung ke Kost Mas BP. Mas BP sendiri berkerja di sebuah LSM milik ormas Islam yang dekat dengan Parpol besar. Perkembangan selanjutnya, karena penulis pindah kerja maka mengharuskan penulis juga harus pindah tempat kost sehingga berpisah dengan Mas BP. Semenjak itu penulis tidak pernah kontak lagi dengan Mas BP, hingga suatu ketika di tahun 2000 penulis lihat Mas BP ada tampil di TV. Dan semenjak itu wajah Mas BP sering tampil di TV bak selebritis. Rupanya perkembangan mas BP sudah ada tampil sebagai anggota DPR parpol besar tsb. Kemudian info dari kerabat Mas BP yang penulis kenal, penulis dapat info no telp rumah Mas BP di kompleks DPR di Kalibata. Ketika penulis telp pengin bertemu Mas BP menyambutnya dengan baik dan memberi waktu. Pada hari yang dijanjikan penulis datang ke rumah dinas Mas BP, ketika membuka pintu Mas BP langsung memeluk saya. Penulis meluangkan waktu yang cukup lama di rumah Mas BP dengan berbincang berbagai hal. Tidak banyak yang berubah dengan Mas BP, sederhana dan tidak ada kesan sombong. Masih mau menerima kedatangan saya yang orang biasa dan menyambut cukup hangat. Ini barangkali pengalaman penulis berteman dengan Mas BP yang sekarang sudah menjadi tokoh nasional. Pengalaman lain, di sekitar tahun 1991 penulis sewaktu masih kuliah bersama teman-teman pernah mengundang Pak Amien Rais untuk menjadi pembicara pada peringatan Isra' Mi'raj. Beliau berkenan hadir di pengajian kampus yang mengambil tempat di salah satu ruangan kuliah yang saat itu hanya dihadiri sekira 50-an hadirin mahasiswa/wi dan beberapa orang dosen. Memang saat itu Pak Amien Rais hanya sebatas pengamat masalah timur tengah dan pengurus pusat PP Muhammadiyah serta anggota dewan pakar ICMI dan belum menjadi seperti sekarang. Namun demikian setelah menjadi Ketua MPR pun tidak banyak berubah dari Pak Amien Rais ini, tetap sederhana dan masih mau bergaul dengan tukang becak, tukang cukur, dan masyarakat di sekitar kediamannya di Yogya. Pak Amien juga merupakan pejabat negara paling miskin dalam artian harta kekayaannya paling kecil dibanding dengan lainnya. Ketika penulis dan kawan-kawan bersilaturahim ke rumah dinas Pak Amien Rais di Widya Chandra disambut dengan hangat tanpa prosedur protokoler yang berarti. Ini terkadang sangat ironi sekali dengan yang ada di sekeliling kita. Baru jadi Ketua RT atau RW saja sudah sombong (orang Betawi bilang BELAGU), dan sangat sulit ditemui dengan alasan sibuk dsb. Penulis juga punya pengalaman dengan rekan kerja penulis satu angkatan, yang pernah mengalami pendidikan yang sama. Mengaji dan jalan sering bareng dengan penulis. Sering teman tsb datang ke tempat kost penulis untuk mengajak jalan-jalan ke toko buku atau nonton film. Namun perkembangan teman penulis mendapat promosi kenaikan jabatan mendahului rekan-rekan seangkatan, kontan sikapnya menjadi berubah 180 derajat. Teman penulis tersebut sudah berubah total, tidak mau lagi bergaul dengan penulis atau dengan rekan-rekan lain seangkatan dan cenderung menjaga jarak. Kalaulah terpaksa harus bertemu, biacarapun seadanya dan sekedar basa-basi, tidak sehangat dan seakrab dulu lagi. Kiranya peringatan Allah pada ayat di atas benar adanya agar kita selalu menjauhi sifat sombong. Salam
Bagi yang belum pernah di PHK bersyukurlah, tapi kalau yang sudah pernah dan mau akan di PHK rasanya memang menyakitkan. Tetapi begitulah adanya, dunia ini memang kejam dan kurang berpihak kepada yang lemah. Namun demikian janganlah berputus asa, selalu berlindung kepada Allah SWT. Jangan sekali-kali menganggap bahwa rezeki kita hanya berasal dari majikan (company). Boleh jadi Allah memang mempunyai rencana lain atas diri kita. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran 2:216 yang artinya, " ………… Boleh jadi kamu membenci sesuatu (di PHK dari company), padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu (tetap bekerja di company), padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui". Barangkali kalau banyak orang memahami ayat tersebut mungkin kejadian penganiayaan terhadap majikan, kasus pelemparan bom molotov akibat di PHK kemaren tidak akan terjadi. Banyak kasus justru setelah di PHK orang tersebut semakin termotivasi untuk maju. Orang-orang sukses biasanya banyak mengalami kegagalan di awal. Pengalaman Pak Paul Arden di bawah bolehlah dijadikan contoh. Saya sendiri kurang lebih mempunyai pengalaman hampir mirip dengan Pak Arden ini, setiap kali di PHK alhamdulillah justru mendapat tempat yang lebih baik. Pengalaman saya di PHK 3 kali, yang pertama kerana ada dianggap kurang perform oleh company, dan kerana ada baru satu tahun bekerja tidak mendapat sangu yang berarti. Yang kedua kerana ada berantem dengan staff senior Jepun, dan saya dipaksa resign oleh HRD. Tapi saya menolak. Hingga saya tantang boleh saya keluar tetapi dikasih sangu, dan kemudian saya keluar dengan sangu yang cukup lumayan untuk masa kerja 2 tahun. Yang terakhir memang company tidak mau melanjut usaha sehingga saya musti dilikuidasi, dan ini pun disangoni yang lumayan juga sih ………. Akhirul kalam ….. Janganlah pernah buruk sangka terhadap Allah, tetap berpikir positif dan selalu berdoa. Salam Ini ada artikel bagus dari Gatra. PHK SEORANG putra kolega Mpu Peniti kena PHK. Padahal, orangnya lugu, jujur, dan penuh pengabdian. Ia telah bekerja 10 tahun di perusahaan itu, dari posisi junior. Tidak pernah mengeluh kalau disuruh lembur. Kadang dibayar, kadang tidak. Ia tipe pegawai yang percaya pada kredo komitmen dan loyalitas. Tapi, apa mau dikata, dua tahun lalu, perusahaan tempat bekerja putra kolega Mpu Peniti itu ganti pemilik. Si pemilik baru berhitung cepat. Lebih murah membayar PHK dan pesangonnya, lalu mengambil tenaga kerja baru yang jauh lebih muda dan murah. Tak mengherankan kalau Mpu Peniti sangat geram dan marah. Dalam sebulan terakhir ini, selalu saja ada cerita tentang PHK. Perusahaan berjuang mati-matian untuk mengirit ongkos. Harga BBM yang melambung berdampak ke mana-mana. Pegawailah yang dijadikan korban. Seorang eksekutif periklanan mengeluh bahwa bujet iklan tahun depan kelihatannya bakal menyusut drastis. Perusahaannya terpaksa tiarap. Konon, banyak perusahaan periklanan yang juga mulai memangkas karyawannya dan melakukan PHK. Hal yang sama berlanjut ke media. Beberapa media yang masih merugi sekarang terancam bangkrut. Tapi PHK bukan soal ekonomi dan angka semata. Luka dan memarnya bisa jauh lebih dalam. Seorang teman saya yang baru saja di-PHK menjadi pemurung, pemarah, dan kehilangan semangat hidup. Konon, anaknya tidak mau menyapa dirinya selama sebulan lebih. Bagi anaknya, ia mirip pecundang yang kalah dan tereliminasi. Di mata anaknya, ia merasa telah kehilangan martabat dan harga diri. Bayangkan, apa jadinya kalau hal yang sama terjadi pada 100.000 orang yang kena PHK. Almarhum Bapak M.S. Kurnia, pendiri Hero Pasar Swalayan, pernah menasihati saya. Menurut beliau, mengelola pegawai ibarat memiliki sekeranjang jeruk. Ada yang manis, ada yang masam, dan ada pula yang tidak bisa dimakan. Penampilannya ada yang bagus, ada pula yang peot-peot. Jeruk yang manis dan penampilannya baik bisa langsung dijual. Yang masam mungkin harus disimpan beberapa hari sampai kadar masamnya pudar. Sedangkan yang peot-peot bisa diolah menjadi jus. Secara singkat, Bapak M.S. Kurnia menasihati bahwa pegawai itu harus menjadi sumber daya usaha kita. Masalah kualitasnya berbeda-beda adalah tantangan kita untuk memberdayakan mereka seluruhnya di posisi yang berbeda-beda. Tentu saja, nasihat Bapak M.S. Kurnia itu adalah sesuatu yang ideal. Padahal, zaman sekarang, kondisi ekonomi yang berubah terus-menerus kadang membuat pengusaha panik. Daripada bangkrut, lebih baik tidak bijaksana. Ini naluri alamiah demi kelangsungan hidup. Jadi, jangan salahkan pengusaha kalau mereka melakukan PHK. Saya cenderung memilih pendapat Mpu Peniti. Kata beliau, alam semesta ini diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan sangat baik dan sempurna. Apa pun yang terjadi di alam semesta adalah bagian dari tujuan yang sangat baik itu. Paul Arden, bekas eksekutif di Saatchi & Saatchi dan penulis buku It's Not How Good You Are, It's How Good You Want To Be, menulis bahwa selama kariernya ia pernah dipecat lima kali. Dan setiap kali dipecat, ia selalu berhasil naik ke tangga karier lebih tinggi, dan seterusnya. Bagi Paul, PHK adalah motivasinya untuk naik. Setiap kali di-PHK, ia merasa perusahaan yang bersangkutan tidak berjodoh dengan dirinya, sehingga ia merasa perlu masuk ke perusahaan lain. Sikap Paul Arden memang sangat positif. Tapi tidak setiap orang bisa menjadi seperti Paul Arden. Buat saya sendiri, motivasi terbaik justru saya dapatkan dari Bapak M.S. Kurnia. Beliau pernah menasihati saya, "Kalau kamu tidak mau dipecat orang, belajarlah memecat dirimu sendiri." Konon, di balik awan akan selalu ada pelangi. Selamat Tahun Baru 2006. Be rich! peka@indo.net.id [Intrik, Gatra Nomor 6 Beredar Senin, 19 Desember 2005]
Pada saat momen mudik di bulan Februari 2005 lalu saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Monumen Keganasan PKI - Kresek bersama Fadhil (anak saya) dan Ninin (keponakan). Hal ini saya tujukan sebagai sarana belajar mereka sebagai generasi penerus supaya tidak terulang lagi di masa datang.
Monumen ini terletak di desa Kresek Kecamatan Wungu yang kurang lebih berjarak 15 km sebelah timur kota Madiun. Dari informasi yang bisa saya dapat, berdirinya monumen ini berawal dari ide Keluarga korban yaitu cucu KH. Sidiq dari Prambon - Dagangan yang ingin agar kerangka jenazah kakeknya bisa dimakamkan secara layak.
Dari saksi mata yang saat kejadian di bulan September 1948 masih berusia 8 tahun di dapat lokasi pasti tempat mengubur jenazah korban keganasan PKI. Lokasi saat akan digali di sekitar tahun 1990-an sudah berupa gundukan tanah yang ditumbuhi rumpun bambu. Bekerja sama dengan aparat Pemda maka didatangkan alat berat untuk menggali kuburan. Jenazah KH. Sidiq sendiri akhirnya ditemukan dengan ciri khusus yang masih diingat ketika diculik yaitu kaca mata dan sabuk othok (tempat korek dan tembakau) dan kerangka jenazah dimakamkan kembali di pemakaman keluarga KH. Mashudi di desa Prambon - Dagangan.
Di keluarga besar kami dari Banjarsari Wetan - Dagangan juga ada yang menjadi korban yaitu Kyai Husein (Anggota DPRD). Eyang kami Kyai Notodirodo yang sempat diculik dibebaskan karena dianggap bukan tokoh.
Tujuan saya di sini bukan untuk membuka polemik tentang PKI, tapi sebagai sarana pembelajaran tentang sisi kelam sejarah bangsa kita khusus nya warga Madiun yang menjadi korban keganasan PKI. Album Photo
Isi Buah-buahan Isi Asem : Klungsu Isi Duren : Pongge Isi Kluwih : Bethem Isi Nangka : Beton Isi Pelem : Pelok Isi Randhu : Klentheng Isi Salak : Kenthos Isi Semangka : Kwaci Isi Sawo : Kecik Isi Kecipir : Botor Isi Jambe : Jebug Isi Kates : Trempos Isi Krambil : Kenthos Isi Kluwak : Pucung Isi Mlinjo : Klathak
Anak Kewan
Anak Asu : Kirik Anak Ayam : Kuthuk Anak Angkrang : Kroto Anak Bandheng : Nener Anak Bantheng : Cendhet Anak Babi : Gambluk Anak Baya : Rete Anak Banyak : Blegur Anak Bebek : Meri Anak Bulus : Kethul Anak Cecak : Sawiyah Anak Celeng : Genjik Anak Cacing : Lur Anak Coro : Mendhet Anak Dara : Piyik Anak Emprit : Indhil Anak Gajah : Bledhug Anak Garangan : Rase Anak Gangsir : Clondo Anak Gagak : Engkak Anak Gemak : Drigul Anak Gundhik : Rayap Anak Iwak : Beyong Anak Jaran : Belo Anak Jangkrik : Gendholo Anak Kancil : Kenthi Anak Kadal : Tobil Anak Kebo : Gudel Anak Kemangga : Ceriwi Anak Kethek : Munyuk Anak Konang : Endrak Anak Kodok : Precil Anak Kucing : Cemeng Anak Kutuk : Kotesan Anak Lawa : Kampret Anak Laler : Singgat Anak Lamuk : Jenthik Anak Lele : Jabrisan Anak Luwing : Gonggo Anak Lutung : Kenyung Anak Luwak : Kuwuk Anak Manuk : Piyik Anak Macan : Gogor Anak Merak : Uncung Anak Menjangan : Kompreng Anak Menthok : Minthi Anak Sapi : Pedhet Anak Singa : Dibal Anak Tawon : Gana Anak Tambra : Bokol Anak Tekek : Celoto Anak Tikus : Cindhil Anak Tongkol : Cengkik Anak Tuma : Kor Anak Urang : Grago Anak Ula : Kisi Anak Walang : Dhogol Anak Wedhus : Cempe Anak Welut : Udhet Anak Yuyu : Beyes
Pentil
Pentil Asem : Cempaluk Pentil Jambu : Karuk Pentil Jagung : Janten Pentil Jambe : Bleber Pentil Krambil : Cengkir Pentil Kacang : Besengut Pentil Manggis : Blibar Pentil Nangka : Babal Pentil Pelem : Pencit Pentil Randhu : Plencing Pentil Mlinjo : Kroto Pentil Semangka : Plonco Pentil Timun : Serit
Woh-wohan
Woh Aren : Kolang kaling Woh Bengkowang : Besusu Woh Cengkeh : Polong Woh Gebang : Krandhing Woh Jati : Janggleng Woh Kesambi : Kecacil Woh Kanthil : Gandhek Woh Kelor : Klenthang Woh So : Mlinjo Woh Turi : Klentang Woh Uwi : Katak
Apa maneh ya,... Kembang, godhong, ..
suwun sing lagi seneng sinau cara jawa ----- Original Message ----- From: Surya To: madiun-club@yahoogroups.com Sent: Tuesday, May 13, 2008 4:24 PM Subject: [madiunClub] Jenenge Apa?
Number 10 Baghdad , Iraq Type of hell : Conflict Sangat mengejutkan bahwa penerbangan yang murah memenuhi akhir pekan ke Baghdad. Kota yang rusak parah karena perang dalam masanya Saddam Husein. Semenjak invasi U.S, pencurian, penculikan dan kejahatan seksual dan pembantaian pasukan terjadi dimana mana. Sebagaian besar jalan di kota ini sudah menjadi padang rumput yang luas. Number 9 Dhaka , Bangladesh Type of Hell: Pollution Kota yang terkenal banyak retaknya, adalah Dhaka , no.9 dalam 10 Neraka di Dunia dalam hitungan mundur. Disamping ketidak stabilan politik, tekanan militer dan kekacauan akibat peperangan dan bencana alam, Ibukota Bangladesh ini menghadapi krisis yang berlebih dengan tingkat polusi tertinggi. Industri yang memenuhi kota ini membawa dampak buruk bagi lingkungannya, secara terus menerus 9.7 juta tons sampah dibuang melalui sungai di kota tiap tahunnya. Number 8 Yakutsk , Russia Type of hell: Environmental extreme Tempat paling dingin di bumi, seringkali suhu disini jatuh pada -58âEUR²Fahrenheit, danjika itu terjadi, anak anak terpaksa libur dari sekolah. Kabut yang tebal hanya bisa membuat mata anda memandang tidak lebih dari 10 m kedepan. Number 7 Mogadhisu, East Africa Type of hell : Lawlessness Kota dimana hirarki adalah selamanya di negoisasi. Di tahun 1992 pemberontakan terjadi dimana mana dengan ribuan kasus dan musim kemarau yang panjang serta kelaparan di tiap wilayah. MOgadishu , tentu saja tidak akan anda temukan pada brosur liburan anda. Number 6 Chernobyl , Ukraine Type of hell: Radiation Jika anda tidak pernah mendengar Chernobyl , kota yang terhukum, mungkin anda tidak mau tinggal disana karena bahaya radiasi selama dekade terakhir ini. Ledakan nuklir pada tahun 1986 telah menghancurkan dan mengkontaminasi semua mahluk organik di tempat ini. Number 5 Oklahoma City , United States Type of hell: Natural disasters Waktu yang buruk berkunjung kesini adalah saat bulan Maret sampai Agustus, cuaca yang tidak bisa diprediksi, ini adalah kota dengan bencana tornado terbanyak di U.S, hingga membuat kota ini tampak seperti film The Day After Tomorrow. Number 4 Pyongyang , North Korea Type of hell: Oppression Kota yang penuh dengan tekanan, kota ini hanya memlikiki satu chanel tv dan stasiun radio yang dikuasai oleh pemerintah. Untuk pergi keluar kota saja tiap orang harus meminta ijin dulu. Intinya anda akan merasa puas jika sudah pergi dari kota ini. Number 3 Bujumbura , Republic of Burundi Type of hell: Corruption Dengan angka pendapatan perkapita terendah, negara ini menjadi negara paling miskin di planet. Dan yang menakutkan sering terjadi pembunuhan pada para pemimpin politik, tak ada satu tempat pun yang cocok dijadikan sebagai bulan madu di sini. Number 2 Linfen , China Type of hell: Darkness. Kota terbesar penduduknya versi majalah Time, sangat sayup dan gelap yang menjadikan kota ini seperti neraka. Udara disini penuh dengan polusi batubara, dan jalan yang sangat padat akan emisi. Anda harus menjauh, walaupun anda telah memakai masker, karena itu tidak bisa menyelamatkanmu, menjauhlah dan jangan pernah kembali ke kota ini. Number 1 Port Moresby , Papua New Guinea Type of hell: Disease Lebih dari 115 penderita HIV muncul tiap bulannya, kota ini menjadi top list tempat terburuk untuk tinggal di dunia, berdasarkan voting intelegen ekonomi pada tahun 2004. Populasi bertambah banyak tidak terkontrol disini, kasus pemerkosaan, pencurian mencapai angka tertinggi 23 kali lipat dari London. Terdapat Geng yang terkenal yang telah berhasil mencuri uang di bank dengan senapan M16. jika anda tak berhasil mencari souvenir disini, jangan kuatir karena setiba dirumah anda akan mendapatkan souvenir penyakit yang telah anda bawa bersama tubuh anda. alhamdulillah.. Indonesia ga ada tuh, masih aman2 aja... Salam DLH From: abdillah.rakhman@BruneiLNG.com To: Migas_Indonesia@yahoogroups.com Sent: Monday, May 12, 2008 11:51 AM Subject: [Oil&Gas] (OOT) Kota Neraka di Dunia
Festival HUT Kyokushin Indonesia Ke-26 dilaksanakan di Semarang pada tanggal 25 - 27 Januari 2008. Acara ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta yang datang dari Pengda Sumut, DKI, Jabar, Jateng selaku tuan rumah, DIY, Jatim, Bali, dan NTB. Sementara Pengda Kaltim absen.
Agenda Festival HUT Kyokushin ini adalah:
Jumat, 25 Januari 2008 Latihan bersama dan pengarahan oleh Shihan JB. Sujoto untuk penyegaran mengenai perwasitan khususnya bagi para pemegang sabuk hitam. Bertempat di Wisma Unnes Semarang.
Sabtu, 26 Januari 2008 Turnamen berlangsung dari pukul 09.00 s/d 16.00 bertempat di Hall Lt. 9 Stikubank Semarang yang dibuka oleh Ketua Dewan Guru Shihan JB. Sujoto. Mempertandingkan nomor Kumite dan Kata. Turnamen ini diikuti oleh kurang lebih 80 peserta dari Pengda yang hadir. Beberapa nomor yang dipertandingkan antara lain Kumite Junior Putra <40>50 kg. Kemudian nomor Kumite Kelas Bebas Putri dan Kelas Dewasa Putra >36 Tahun.
Adapun daftar pemenang Turnamen sbb:
Kelas Yunior (s/d 12 thn - < 40 Kg ) : 1.Vincent (Jatim); 2.Gede Satria P (Bali); 3.Rangga R (NTB)
Kelas Yunior (s/d 15 thn - < 50 Kg ) : 1.Christopher B (Jatim); 2.Akbar Saepullah (Jabar); 3.Setia Aji ( DIY). Kelas Yunior (s/d 15 thn - > 50 Kg) : 1.Nyoman Jordi K (Bali); 2.Ishak (Jabar); 3.Hiroki (Sumut). Kelas Dewasa Putera ( > 36 thn) : 1.Ketut Wijaya (Bali); 2.Agung Purnama (Bali; 3.Abdul Aziz (NTB). Kelas Bebas Puteri : 1.Angeline Kosim (Sumut); 2.Gladys G. Nemawashi (Jabar); 3.Shinta (DIY)
Peragaan Kata Terbaik Puteri : 1.Gina Derry (Bali); 2.Gladys G.Nemawashi (Jabar); 3.Marvella (Sumut). Peragaan Kata Terbaik Putera : 1. Oei Kim Liong (Bali) ; 2. Sonny Omegawan (Jabar). Note: Saya turut berpartisipasi dalam nomor Kumite Dewasa Putra >36 tahun dan harus puas tidak naik ke podium karena hanya menempati juara 4. Dalam partai Semifinal saya dikalahkan Ketut Wijaya (Bali) dan tidak bisa tampil dalam perebutan Juara 3 melawan Abdul Aziz (NTB) karena cedera kaki. Di partai semifinal lainnya Agung Purnama (Bali) berhasil mengalahkan Abdul Aziz (NTB) namun harus di tebus dengan cedera pada tulang iga, sehingga Agung tidak bisa tampil di partai Final. Dan otomatis, Ketut Wijaya (Bali) tempil sebagai Juara 1. Pada malam harinya dilangsungkan syukuran HUT Ke-26 di Hotel Horison Semarang. Dihadiri antara lain oleh Ketua Umum Kyokushin Indonesia Shihan Bondan Gunawan, dan para warga senior, juga dari warga Kyokushin PMK diantaranya Gunawan Wijaya (Fighter TPI FC). Minggu, 27 Januari 2008 Munas Kyokushin di Auditorium Lt. 6 Stikubank Gallery Photo
Akhirnya, ........ kesampaian juga nonton film action “Flashpoint”. Benar2 dahsyat memang film ini – kalau tak mau dibilang gila. Donnie Yen – sang pemeran utama merangkap action director, terkesan ‘lebai‘ mengumbar banyak potongan teknik MMA di sana-sini. Bayangkan, di awal adegan saja langsung dipertontonkan teknik arm bar submission yg di dalam MMA sudah merupakan ritual wajib nan ‘mulia’ bagi MMA-er untuk menyelesaikan misi-nya di atas ring. Ditutup dengan teknik RN Choke di akhir film. Sementara di tengah2 cerita tak terhitung lagi berapa kali dipamerkan gaya bertarung mulai dari tendangan2 klasik ala kungfu (pastinya, lha memang ini bikinan HK), triangle choke, flying armbar sampai ke elbow dan knee attack ala bela diri Muay thai. Itu belum termasuk sapuan2 low kick khas gaya petarung MMA. Tak salah jika disebutkan bahwa film Flashpoint ini adalah film MMA (dan mungkin terbaik yg pernah ada sampai hari ini).
Begitu detilnya Kang Donnie dalam meramu dan mengkombinasikan teknik dan konsep tarung di setiap frame. Namun semua tampak wajar, alami dan sangat nyata layaknya sebuah pertarungan di jalan. Pun tak ada kesan memaksakan kehendak dengan masuknya sebuah teknik tertentu dalam setiap pengadeganan, kecuali (ini, menurut saya) adegan armbar yg disuguhkan di awal cerita. Masak sih, dalam sebuah perkelahian sesungguhnya ada orang yg melakukan tap out tanda menyerah? Biasanya orang mau nyerah ya teriak2 minta ampun. Atau langsung tewas saja! Entah kebetulan atau tidak, beberapa tahun lalu saya pernah mem-posting tentang bagaimana cara ‘minta ampun’ (baca : menyerah atau tap out) kepada lawan kita di dalam sebuah perkelahian nyata. Mungkin relevan dengan komentar di atas. Bahkan di film ini Donnie juga menampilkan adegan sprawl sambil ngesot beberapa meter di atas lantai berpasir yg tak mungkin dilakukan di atas matras, ring atau kandang kawat Octagon. Sangat indah !
Bagaimana dengan plot cerita? Gak usah dikomenlah! Emangnya gue pikirin! Cuman kali ini Donnie agak berkompromi dengan penonton dengan membuat akhir cerita yg happy ending. Berbeda dengan film sebelumnya yg juga berbau MMA, “SPL”, yg berakhir kelabu alias banyak yg matek jagoannya.
Saya dengar boss Defense Factory ada komen atas adegan RNC di akhir film. Kita tunggu …..! bagaimana dgn komentar admin? Saya masih penasaran dengan armbar yg dlakukan Donnie di akhir film yg kaki kanannya bukan di atas dada lawan tapi malah mengganjal di ketiak saat meng-armbar lengan kanan musuhnya. Rupanya siap2 untuk adegan memuntir tangan berikutnya. Barusan dapat pencerahan dari Bro Uci atas hal ini. Saya kok jadi tambah pusing…. :) maklumlah Admin kan taunya Cuma nonton di CD2 bajakan, jadi teknik2 ‘kembangan’ seperti armbar dengan sebelah kaki begini belum pernah ‘ngeh’. Dan kemungkinan besar besok dia mau unjukin ke kita tentang teknik armbar yg aneh ini. Mudah2an tidak ada aral melintang. Amin.
Singkatnya, jangan ngaku sebagai superfan of MMA jika belum nonton film ini. He he he he……! 
!  
Berikut ini adalah terjemahan interview dengan Donnie Yen : Dikutip dari comzonindonesia : Saya melihat konsep MMA (Mixed Martial Art) diterapkan di dalam film ini? Donnie Yen: MMA, sebuah combat sport yang telah menjadi popular di Negara Barat dalam berapa tahun belakangan ini, adalah sebuah system pertarungan yang sangat efektif dan mengunakan berbagai jenis teknik bela diri seperti Jiujitsu, Boxing, Muay Thai, Wrestling, dll. Saya percaya bahwa ini adalah bentuk pertarungan yang paling asli. Saya telah belajar dan meneliti nya untuk satu waktu. Saya bahkan telah memperkenalkanya di dalam SPL – Brazilian Ju–Jitsu. Piting (grappling) dengan Sammo Hung di akhir film? Donnie Yen: Ya. Saya masih pemula pada saat itu. Saya telah menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan berlatih untuk “Flash Point” (MMA-red). Dan saya juga telah berpikir keras tentang bagaimana menampilkanya dalam layar lebar. Bagaimana dapat di film kan dan diedit dengan sempurna, karena itu sangat penting. Kita telah mengikuti tata cara (pattern) dalam bagaimana mengambil gambar dan menata bela diri ke dalam film untuk lebih dari 10 tahun. Saya berharap untuk bisa melepaskan diri dari kekangan itu dan menciptakan pembaharuan. Jadi saya melihat dan membawa bela diri dengan cara yang berbeda. Tidak lah mudah untuk mengubah MMA kedalam film.Donnie Yen: Tentu saja, akan lebih mudah untuk mundur kebelakang dan mengambil gambar dengan cara yang lama. Apa yang kita sudah lakukan selama ini, mengikuti sebuah tata cara yang sama (fixed pattern), irama yang sama. Satu pukulan dari kamu, dan kemudian dari aku. Saya tidak akan menepikan film kungfu tradisional, mereka meluncurkan film-film kita (HK) sebagai sebuah cult di dunia. Beberapa film bela diri di Hollywood didalam berapa tahun ini merupakan hasil dari influansi kita. Di tangan yang lain, kita masih mengikut aturan-aturan yang sama. Tapi di dalam pertarungan yang sebenarnya, yang dimana tidak ada peraturanya, segalanya bisa terjadi. Tidak akan ada ganti-gantian (turn base), keduanya dapat melemparkan pukulan pada waktu yang bersamaan. Akan ada pukulan-pukulan yang tidak kena. Ini adalah dunia pertarungan tangan kosong yang sebenarnya. Saya telah berpikir bagaimana cara untuk membawa ini ke dalam film tanpa membuatnya terlihat seperti rekaman dari pertandingan bela diri. Saya telah bereksperimen bagaimana membuat keseimbangan antara membuat film dan kenyataan pertarungan yang sebenarnya.Membuat film adalah sebuah karya seni visual. Seni bertarung dan wrestling terlalu terlihat (obvious) di SPL. Sedikit kurang menarik ketika kamu mengunci Sammo Hung dengan kaki mu daripada ketika kamu meloncat dan melakukan tiga tendangan bertuntun di tengah udara. Bagaimana kamu mengatasi ini di Flash Point? Donnie Yen: Pertama sekali, saya merancang aksi secara keseluruhan, daripada berpikir dalam bentuk potongan-potongan adegan yang menghasilkan gerakan visual indah dan menarik mata (catchy). Saya akan menempatkan diri ke dalam |
|