Mas Eko Nugroho's Multiply

Blog Entry[Info] Donnie Yen dan MMAMar 12, '08 8:26 PM
for everyone


Berikut ini adalah terjemahan interview dengan Donnie Yen :

Dikutip dari comzonindonesia :

Saya melihat konsep MMA (Mixed Martial Art) diterapkan di dalam film ini?
Donnie Yen: MMA, sebuah combat sport yang telah menjadi popular di Negara Barat dalam berapa tahun belakangan ini, adalah sebuah system pertarungan yang sangat efektif dan mengunakan berbagai jenis teknik bela diri seperti Jiujitsu, Boxing, Muay Thai, Wrestling, dll. Saya percaya bahwa ini adalah bentuk pertarungan yang paling asli. Saya telah belajar dan meneliti nya untuk satu waktu. Saya bahkan telah memperkenalkanya di dalam SPL – Brazilian Ju–Jitsu.
Piting (grappling) dengan Sammo Hung di akhir film?
Donnie Yen: Ya. Saya masih pemula pada saat itu. Saya telah menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan berlatih untuk “Flash Point” (MMA-red). Dan saya juga telah berpikir keras tentang bagaimana menampilkanya dalam layar lebar. Bagaimana dapat di film kan dan diedit dengan sempurna, karena itu sangat penting. Kita telah mengikuti tata cara (pattern) dalam bagaimana mengambil gambar dan menata bela diri ke dalam film untuk lebih dari 10 tahun. Saya berharap untuk bisa melepaskan diri dari kekangan itu dan menciptakan pembaharuan. Jadi saya melihat dan membawa bela diri dengan cara yang berbeda. Tidak lah mudah untuk mengubah MMA kedalam film.Donnie Yen: Tentu saja, akan lebih mudah untuk mundur kebelakang dan mengambil gambar dengan cara yang lama. Apa yang kita sudah lakukan selama ini, mengikuti sebuah tata cara yang sama (fixed pattern), irama yang sama. Satu pukulan dari kamu, dan kemudian dari aku. Saya tidak akan menepikan film kungfu tradisional, mereka meluncurkan film-film kita (HK) sebagai sebuah cult di dunia. Beberapa film bela diri di Hollywood didalam berapa tahun ini merupakan hasil dari influansi kita. Di tangan yang lain, kita masih mengikut aturan-aturan yang sama. Tapi di dalam pertarungan yang sebenarnya, yang dimana tidak ada peraturanya, segalanya bisa terjadi. Tidak akan ada ganti-gantian (turn base), keduanya dapat melemparkan pukulan pada waktu yang bersamaan. Akan ada pukulan-pukulan yang tidak kena. Ini adalah dunia pertarungan tangan kosong yang sebenarnya. Saya telah berpikir bagaimana cara untuk membawa ini ke dalam film tanpa membuatnya terlihat seperti rekaman dari pertandingan bela diri. Saya telah bereksperimen bagaimana membuat keseimbangan antara membuat film dan kenyataan pertarungan yang sebenarnya.Membuat film adalah sebuah karya seni visual. Seni bertarung dan wrestling terlalu terlihat (obvious) di SPL. Sedikit kurang menarik ketika kamu mengunci Sammo Hung dengan kaki mu daripada ketika kamu meloncat dan melakukan tiga tendangan bertuntun di tengah udara.

Bagaimana kamu mengatasi ini di Flash Point?
Donnie Yen: Pertama sekali, saya merancang aksi secara keseluruhan, daripada berpikir dalam bentuk potongan-potongan adegan yang menghasilkan gerakan visual indah dan menarik mata (catchy). Saya akan menempatkan diri ke dalam sepatu si petarung, ketika saya menghadapi situasi seperti ini, apa yang saya akan lakukan, apa yang akan terjadi setelahnya. Sebagai contoh, sebelum dua orang bertarung, akan ada jarak diantara mereka. Setelah mereka cukup dekat, apa yang akan terjadi? Pertama, sedikit tendangan, diikuti dengan tinju jarak dekat. Kemudian mereka akan jatuh ke lantai, dan mulai melakukan kunci-kunci. Salah satu mungkin berdiri, atau mereka akan melanjutkan pertarungan di lantai. Didalam proses choreography, saya menerapkan berbagai jenis teknik bela diri.

Sejak kapan anda mulai mengunakan MMA dalam film?
Donnie Yen: Seharusnya SPL. Sebenarnya ketika saya mulai membuat Twin Effect, saya sudah mengunakan sedikit pengetahuan Wushu (dalam pengertian dan pemahaman Donnie – red) ke dalam film. Ketika Gillian Chung terlempar kebelakang oleh sebuah pukulan dan jatuh, saya memberikan sedikit tambahan efek berguling (tumble). Itu ketika saya mulai mencoba teknik seperti itu. Adalah sebuah langkah lebih jauh di dalam SPL. Ketika Flash Point, saya sudah sangat terbiasa dengan semuanya. Saya berharap dapat membawa sebuah aliran baru dalam film bela diri. Saya juga berharap itu membawa sebuah trobosan baru yang revolutionary.

Apakah kamu pernah memperhitungkan bahwa MMA akan menjadi sebuah umum (mainstream action) di masa yang akan datang apabila Flash Point laku keras?
Donnie Yen: Saya tidak berani berspekulasi. karena film adalah suatu bentuk dari iklan. Sebuah film yang sukses pasti akan membawa sebuah trend baru.MMA memberikan ancaman yang besar untuk keamanan para aktornya.

Saya menyadari bahwa ada banyak sekali cedera yang terjadi pada anda dalam pembuatan film ini.
Donnie Yen: Jika kita mau genre yang paling di sayangi (film bela diri –red) selalu sebagai trendsetter, kita tidak tidak bisa berharap pada choreography saja. Kita perlu mengambil perhitungan bagaimana dia di filmkan, dan para aktor nya sendiri. Kita bukan hanya bisa bertarung tapi bisa juga berakting.

Apa yang menurut mu sebagai nilai komersial yang paling kuat di Flash Point?
Donnie Yen: Scene bela diri. Ketika kita menampilkanya di dalam trailer tambahan di Cannes Film Festival, banyak orang yang bilang kalo film ini sangat dekat dengan teknik pertarungan yang sebenarnya, seperti yang digunakan oleh para juara MMA. Itu adalah sebuah hal yang sangat memacu saya. Kerja keras saya tidak sia-sia. Saya mengerti bahwa kamu banyak mengundang ahli bela diri dari seluruh dunia (international) untuk Flash Point. Donnie Yen: Itu sebenarnya bukan benar-benar International. Banyak dari mereka pernah bekerja dengan saya sebelumnya. Sebagaian merupakan asisten saya. Mereka sendiri adalah ahli bela diri. Salah satu dari mereka, John Salvitti adalah teman untuk lebih dari 20 tahun. Dia bermain dalam Tiger Cage 2. Diluar sebagai kombatan (petarung), dia telah belajar MMA untuk lebih dari 15 tahun. Sebuah takdir yang membawa kita bertemu.Yuen Wo Ping cenderung untuk Choreograph aksi berdasarkan dengan jalan cerita. Apa jenis style martial art Choreography yang kamu terapkan?Donnie Yen: Saya percaya bahwa penerapan pertarungan paktis adalah keungulan saya. Saya selalu melakukan Choreography dengan nilai-nilai penting yang tidak terpisahkan (intrinsic value) dari bela diri, apapun background dari filmnya. Bahkan dalam film Dragon Tiger Gate (Long Hu Men), yang merupakan adaptasi dari komik. Saya merancang action scene sesuai dengan teori pertarungan. Saya tidak sekedar membuat aksinya nampak memukau (enthralling).

Sebagai pengarah bela diri, salah satu dari masalah yang paling utama adalah mempromosikan pemain baru, termaksud ketika anda pertama kali bekerja dengan Yuen Wo Ping di awal karir anda.
Donnie Yen: Pada jaman sekarang, pengarah bela diri berjalan dengan perkembangan teknologi perfilman. Kita dapat mengunakan berbagai teknik untuk di sesuaikan dengan aktor yang bukan praktisi bela diri. Di masa-masa awal saya dengan Yuen Wo Ping, teknologi masih belum seperti sekarang, apapun yang kita lakukan sangat bergantung dengan skill asli masing-masing. Tapi aktor-aktor jaman sekarang sangat beruntung. Mereka dapat bergantung dengan editing, peran peganti, tali dan special effect untuk membuat mereka terlihat dapat bertarung dengan baik. Tapi saya selalu percaya, sekarang penonton mencari bela diri yang autentik (asli) di dalam seni bela diri. Itu sebabnya saya melihat ke arah pertarungan yang sebenarnya.

Siapa yang paling berpengaruh padamu dalam jalan choreography seni bela diri?
Donnie Yen: Tentu saja Yuen Wo Ping. Dialah yang membawa saya kedalam lingkaran ini. Sebagain dari cara pengambilan filmnya memberikan influansi yang besar bagi saya, saya kagum akan teknik yang dipakai para pengarah seni bela diri lain juga, mereka ada teknik yang unik untuk melakukan action scene. Saya berharap dapat belajar banyak dari mereka. Ini adalah tujuan saya didalam bela diri selama ini (MMA untuk membuat style unik dia sendiri –red)“Many action films can be imitated, but one without experience in combat can never pull off the martial arts scenes in Flashpoint”Anda pernah berkata sebelumnya, bahwa sebuah film bela diri yang bagus haruslah dapat melewati Iron Mongkey. Kita sekarang telah percaya bahwa SPL adalah sebuah garis untuk film contemporary action. Apakah kamu merasa sudah melewati SPL?Donnie Yen: Seperti yang telah saya katakan tadi, Saya berharap melewati model choreography seperti itu. Sebenarnya di SPL, sudah ada beberapa trobosan baru. Didalam pertarungan melawan Wu Jing, anda dapat melihat dengan jelas, bahwa tidak ada bentuk yang pasti(form pertarungan yang fix-red). Flash Point menuju kearah yang sama. Banyak film aksi dapat di tiru, tapi seseorang yang tidak mempunyai pengalaman di dalam pertempuran (yang sesunguhnya-red) tidak dapat membuat scene bela diri seperti yang ada di Flash point. Tidak mengikuti aturan atau style yang fix didalam pembuatan film. Seperti pertarungan sebenarnya diantara dua orang ahli bela diri.Dalam 10 tahun terakhir ini film action Hong Kong telah di beri label “Tinju yang tidak cukup keras, bantal yang tidak cukup lembut”.

Apa pendapatmu tentang ini, penurunan kualitas film action.
Donnie Yen: Penurunan adalah dikarenakan hilangnya daya tarik unik dari film bela diri, kemampuan bela diri aktor itu sendiri. Di dalam film bela diri sebelumnya, seperti di dalam film Bruce Lee, Jackie Chan, Samo Hung, mereka mempunyai kemampuan bela diri. Bahkan apabila filmnya tidak terlalu bagus, kamu tetap akan menemukan kualitas didalam scene pertarungan tertentu yang membuat selera anda tergetar. Akan tetapi dengan semakin tua nya para generasi lama, ada muncul banyak aktor yang tidak memiliki skill yang mencukupi. Mereka mengandalkan trik dan special effect dalam membuat film. Secara natural penonton tidak akan merasakan pengalaman yang kuat seperti film lama.



bajingukangukanguk wrote on May 16
Donnie Yen, pertama kali ngeliat dia di film hollywood ... pas di Film Highlander - The End Game -. Dia jadi HIghlander yang dikatakan pernah bertugas sebagai pengawal pribadi kaisar Cina.
Senpai Eko udah nonton film itu?

Gerakannya asyik banget diliat. Mirip Jet Lee tapi lebih tertata.
masekonugroho wrote on May 20
wah ketinggalan banget ya berarti kenal nya sama mas Donnie Yen. Kalau saya sudah sejak Mas Donnie maen pertama kali di Drunken Master 2 tahun 1984, trus berlanjut main di "In The Line of Duty" (di sini beredar dg judul Black Protector) dan Tiger Cage.

Di Highlander action Mas Donnie kurang di expose secara maximal ...... maklum hanya figuran dan fight choreographer.
teaindra wrote on May 26
kalau saya lihat sih,mendingan liat donnie yuen daripada liat jet li
lebih asik gerakan nya
lebih di hayati main action nya
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help