Pada saat momen mudik di bulan Februari 2005 lalu saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Monumen Keganasan PKI - Kresek bersama Fadhil (anak saya) dan Ninin (keponakan). Hal ini saya tujukan sebagai sarana belajar mereka sebagai generasi penerus supaya tidak terulang lagi di masa datang.
Dari informasi yang bisa saya dapat, berdirinya monumen ini berawal dari ide Keluarga korban yaitu cucu KH. Sidiq dari Prambon - Dagangan yang ingin agar kerangka jenazah kakeknya bisa dimakamkan secara layak.
Dari saksi mata yang saat kejadian di bulan September 1948 masih berusia 8 tahun di dapat lokasi pasti tempat mengubur jenazah korban keganasan PKI. Lokasi saat akan digali di sekitar tahun 1990-an sudah berupa gundukan tanah yang ditumbuhi rumpun bambu. Bekerja sama dengan aparat Pemda maka didatangkan alat berat untuk menggali kuburan. Jenazah KH. Sidiq sendiri akhirnya ditemukan dengan ciri khusus yang masih diingat ketika diculik yaitu kaca mata dan sabuk othok (tempat korek dan tembakau) dan kerangka jenazah dimakamkan kembali di pemakaman keluarga KH. Mashudi di desa Prambon - Dagangan.
Di keluarga besar kami dari Banjarsari Wetan - Dagangan juga ada yang menjadi korban yaitu Kyai Husein (Anggota DPRD). Eyang kami Kyai Notodirodo yang sempat diculik dibebaskan karena dianggap bukan tokoh.
Tujuan saya di sini bukan untuk membuka polemik tentang PKI, tapi sebagai sarana pembelajaran tentang sisi kelam sejarah bangsa kita khusus nya warga Madiun yang menjadi korban keganasan PKI.
wah mas eko ini orang madiun juga, salam kenal mass aku juga orang magetan, disesa saya Kenongomuyo, ulon kali mas lor dam jati juga ada monumen kekejaman PKI th 48, hehehe asyik juga tuh foto2nya